Oleh: Ustadz Oji Bahrul ulum Adi S.Pd.
Dunia hari ini seringkali mendefinisikan “jati diri” sebagai sesuatu yang cair. Kita diajarkan untuk menjadi apa saja sesuai keinginan hati, berganti identitas seiring tren, dan mengejar validasi tanpa henti. Namun, di balik kebebasan yang tampak itu, banyak jiwa justru merasa asing dengan dirinya sendiri. Inilah yang kita sebut sebagai krisis identitas.
Secara kasat mata, krisis identitas tampak sebagai persoalan sosial atau psikologis. Namun, jika kita menyelam lebih dalam, ia adalah gema dari sebuah “perang sunyi” yang berlangsung di dalam batin: pertarungan antara akal dan hawa nafsu.
Keramaian di Dalam Diri
Krisis identitas sebenarnya bukanlah sebuah kekosongan. Sebaliknya, ia adalah “keramaian” yang menyesakkan di dalam diri. Terlalu banyak suara, terlalu banyak rupa, dan terlalu banyak keinginan yang saling bertabrakan tanpa poros yang jelas.
Akal membisikkan pesan halus: “Tetaplah pada jalan yang lurus, kau adalah makhluk yang dimuliakan.” Sementara nafsu berteriak lantang: “Ikuti apa yang menyenangkan, jadilah apa saja hari ini, dan berubah lagi besok.” Di antara bisikan dan teriakan inilah manusia seringkali kehilangan suara aslinya.
Akal Sebagai Jangkar, Nafsu Sebagai Topeng
Identitas yang dibangun oleh akal selalu berakar pada sesuatu yang stabil nilai, iman, kebenaran, dan prinsip. Sebaliknya, identitas yang disetir oleh nafsu ibarat topeng yang ditukar setiap pagi. Ia berubah mengikuti gelombang mood, haus akan pengakuan, atau rasa takut akan penolakan.
Nafsu tidak pernah meminta manusia untuk mengenali dirinya, ia hanya meminta manusia untuk melupakan dirinya dalam kesenangan sesaat. Di era banjir impuls informasi seperti sekarang, akal yang seharusnya menjadi penjaga makna seringkali dibungkam oleh keinginan yang lahir dari kegelisahan, bukan dari nilai.
“Manusia kehilangan dirinya bukan karena dunia memalingkannya, tetapi karena ia sendiri menukar akalnya dengan nafsu yang berjanji memberi segalanya, namun tidak memberi apa-apa selain kehampaan.”
Menata Kembali Takhta Batin
Secara filosofis, krisis identitas adalah tanda bahwa kita telah mengizinkan energi primitif (nafsu) mengatur kemudi hidup. Jiwa yang tidak lagi dibimbing akal akan menjadi seperti padang pasir yang dihantam badai pasir beterbangan tanpa arah, menutup jejak, dan menghapus tanda-tanda jalan.
Lantas, bagaimana cara mengakhirinya? Solusinya bukan sekadar “menemukan” jati diri, melainkan mengembalikan posisi kepemimpinan di dalam diri:
Mengembalikan Akal ke Singgasananya: Memberi ruang sunyi bagi akal untuk merenungkan tujuan penciptaan.
Menurunkan Nafsu dari Takhta: Menyadari bahwa nafsu adalah pengikut, bukan pemimpin yang layak.
Selama nafsu yang memimpin, manusia mungkin akan menjadi “banyak hal” di mata orang lain, tetapi ia tidak akan pernah benar-benar menjadi “dirinya sendiri”.
Dalam Al-Qur’an Surat Qaf ayat 37, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati (yang hidup) atau menggunakan pendengarannya dengan penuh kesadaran.”
Ayat ini memberi isyarat kuat bahwa identitas sejati lahir dari hati yang hidup dan akal yang sadar. Ketika hati tertutup oleh syahwat, seseorang akan kehilangan kompas batinnya. Itulah inti dari krisis identitas yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, perang sunyi ini bukan tentang siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih layak memimpin hidup kita. Kita hanya akan menemukan “nama sejati” kita ketika kita kembali belajar mendengar bisikan akal yang dulu sempat tenggelam oleh riuhnya keinginan dunia. Wallohul musta’an.

2 weeks ago
32

















































