Setahun Krisis Air Bersih, Warga Tanjung Sengkuang Adu Argumen di BP Batam

1 week ago 34
krisis air tanjung sengkuangKepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil BP Batam Li Claudia Chandra saat menemui warga Tanjung Sengkuang yang demo terkait air bersih, Kamis (22/1/2026). Foto: AlurNews.com

AlurNews.com – Ratusan warga Tanjung Sengkuang, Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor DPRD Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kamis (22/1/2026).

Aksi yang berlangsung sejak pagi ini, menuntut kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang sudah setahun tidak dirasakan oleh warga.

Dalam aksi ini, warga awalnya mendatangi kantor DPRD Kota Batam. Warga yang tiba di lokasi melakukan aksi protes dengan mematikan dan menyegel meteran air.

Salah satu warga, Dayat menyebut hal ini sebagai simbol kekecewaan warga atas kinerja PT Moya melalui pengelola air bersih Batam di bawah PT Air Batam Hilir (ABH) yang dikelola oleh BP Batam.

“Kami sudah terlalu muak dengan janji akan membereskan masalah kebutuhan kami akan air. Hari ini kantor perwakilan rakyat harus merasakan apa yang dialami rakyat setiap hari,” jelasnya.

Dayat menuturkan aksi yang dilakukan warga di kedua institusi tersebut, adalah puncak dari akumulasi kekecewaan warga. Menurutnya, keluhan yang telah disampaikan selama bertahun-tahun tidak kunjung mendapat perhatian serius dari pemerintah.

“Masalah ini sudah memuncak. Kami sudah tiga kali RDP di DPRD Batam dan sudah dijanjikan solusi sejak enam bulan lalu,” jelasnya.

Dalam aksi ini, warga menyampaikan tiga tuntutan diantaranya meminta DPRD agar tetap merasakan tidak memiliki air bersih, hingga permasalahan di Tanjung Sengkuang dapat diselesaikan. Selain itu, warga meminta DPRD agar menggunakan kuasanya sebagai perpanjangan tangan rakyat yang telah memilih mereka.

“Apabila tidak sanggup kami punya poin ketiga agar mereka mundur saja dari jabatan nya sekarang, karena selama setahun ini kami tidak pernah merasa diwakilkan oleh mereka,” ujarnya.

Koordinator aksi, Syamudin juga mengeluhkan solusi yang selama ini ditawarkan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam maupun BP Batam. Warga menganggap solusi pengiriman tangki air setiap hari tidak menyelesaikan akar masalah dan kini telah memicu konflik antarwarga.

Melihat kesulitan yang dialami, warga mendesak pemerintah memutus kerja sama dengan PT Moya apabila dinilai tidak mampu menyelesaikan persoalan krisis air bersih.

“Ada warga yang anggota keluarganya meninggal dunia dan harus dimandikan menggunakan air galon. Kalau PT Moya tidak sanggup, kembalikan saja kerja sama ke PT ATB,” jelasnya.

Warga Adu Mulut Saat Sampaikan Aspirasi di BP Batam

Setelah melakukan aksi di Gedung DPRD Batam, warga melanjutkan aksi ke kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam. Di sana warga sempat beradu mulut dengan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra.

Hal ini dipicu saat perwakilan massa mempertanyakan kinerja pimpinan BP Batam, dan menyampaikan saran agar dapat meninggalkan jabatannya apabila tidak mampu menyelesaikan permasalahan air bersih bagi warga.

“Yang bisa suruh kita mundur bukan dia,” ketus Li Claudia saat massa membacakan tuntutan dalam aksi yang berlangsung di depan kantor BP Batam.

Bersamaan dengan itu, wakil kepala BP Batam juga sempat mempertanyakan mengenai kredibilitas dari koordinator aksi. Bahkan Li Claudia mempertanyakan kepentingan dari koordinator aksi.

“Pak Syamsuddin, kamu titipan dari mana,” tanyanya.

Sementara itu, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad menyampaikan tidak akan pernah mengelak terkait tuntutan warga. Unsur pimpinan saat ini akan mencoba tetap memenuhi apa yang menjadi tuntutan warga.

“Tidak akan kami mengelak. Mau masalah kebun sayur atau air. Kami akan coba penuhi yang menjadi hak bagi warga,” ujar Amsakar.

Amsakar juga mengatakan bahwa persoalan air bersih masuk dalam program prioritas pemerintah. Amsakar meminta warga tidak meragukan komitmen pemerintah, dan meminta waktu agar persoalan dapat diselesaikan sesuai mekanisme.

Amsakar juga menegaskan tidak ada upaya mengulur tanggung jawab dalam penanganan krisis air bersih.

“Kami punya 15 program prioritas yang salah satunya juga soal air bersih. Bapak Ibu jangan ragukan komitmen itu. Kami minta waktu bapak ibu. Jangan berpikir bahwa saya ini mendelay-delay tanggung jawab kami,” jelasnya. (Nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |