Bias Konfirmasi: Ketika Kita Sulit Melihat Kesalahan Sendiri

23 hours ago 11

Oleh: Cak Arip

Keyakinan pada prinsip tidak berarti setiap penilaian kita terhadap fakta pasti benar. Di media sosial, bias konfirmasi dapat membuat seseorang sangat kritis terhadap informasi yang tidak disukainya, tetapi jauh lebih longgar ketika informasi itu menguatkan posisi yang sudah ia yakini.

Kita kadang mempunyai dua standar dalam membaca berita. Ketika sebuah informasi merugikan tokoh, kelompok, atau pandangan yang kita dukung, kita segera bertanya: sumbernya dari mana? Videonya utuh atau dipotong? Kapan peristiwa itu terjadi? Apa konteksnya?

Namun ketika informasi yang datang justru menguntungkan posisi kita, ketelitian itu bisa mengendur. Judulnya terasa masuk akal, narasinya sesuai dugaan, lalu tombol share ditekan sebelum pemeriksaan selesai.
Kecenderungan seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai confirmation bias atau bias konfirmasi: kecenderungan mencari, menerima, dan menafsirkan informasi dengan cara yang lebih menguntungkan keyakinan yang sudah kita miliki.

Bias ini tidak selalu bekerja secara sadar. Seseorang bahkan bisa merasa sedang melakukan riset, membaca banyak berita, mengikuti banyak akun, dan menonton banyak video. Yang perlu ditanyakan kemudian: apakah informasi yang kita kumpulkan benar-benar sedang menguji keyakinan kita, atau hanya terus menguatkannya?

1. Linimasa Bukan Gambaran Utuh Realitas

Media sosial membuat persoalan ini lebih rumit karena informasi yang muncul di hadapan kita bukan gambaran utuh dari seluruh peristiwa yang sedang berlangsung. Apa yang kita ikuti, sukai, komentari, bagikan, dan tonton ikut membentuk jenis konten yang lebih sering kita temui. Sistem rekomendasi platform juga ikut menentukan apa yang ditampilkan.

Akibatnya, seseorang dapat semakin sering bertemu dengan pendapat, tokoh, atau narasi yang sejalan dengannya. Dari sinilah dapat terbentuk apa yang sering disebut echo chamber atau ruang gema: lingkungan informasi tempat pandangan yang serupa terus berulang dan saling menguatkan.

Namun algoritma tidak perlu dijadikan kambing hitam tunggal. Pengguna sendiri juga memilih siapa yang diikuti, grup apa yang dimasuki, konten apa yang dibaca, dan informasi mana yang segera diabaikan.

Masalah muncul ketika frekuensi sebuah pendapat di linimasa dianggap sebagai bukti bahwa pendapat itu pasti benar. Kita melihat puluhan unggahan yang mengatakan hal serupa, lalu menyimpulkan, “Berarti memang begitulah kenyataannya.”

Padahal bisa jadi yang kita lihat hanyalah bagian tertentu dari realitas yang berulang kali muncul di lingkungan informasi kita sendiri.

2. Mencari Kebenaran atau Mencari Pembenaran?

Bias konfirmasi tidak sama dengan kebohongan. Orang yang terjebak di dalamnya belum tentu sedang berniat menipu atau berbohong. Ia mungkin sungguh-sungguh ingin mengetahui kebenaran. Justru karena itulah bias ini sulit dikenali.

Kita mudah curiga terhadap sumber yang berseberangan dengan pandangan kita, tetapi jarang mencurigai sumber yang mengatakan persis seperti yang ingin kita dengar.

Karena itu ada satu pertanyaan yang penting diajukan kepada diri sendiri: Apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sedang mengumpulkan pembenaran?
Orang yang sungguh mencari kebenaran tidak hanya mencari bukti yang mendukung pendapatnya. Ia juga bersedia bertanya: apa yang dapat membuktikan bahwa kesimpulan saya keliru?

Sikap seperti ini tidak menuntut seseorang menjadi ragu terhadap semua hal. Yang diuji bukan setiap prinsip yang diyakini, melainkan ketepatan kita ketika memahami fakta, menilai peristiwa, dan menarik kesimpulan.

3. Ketika Bias Masuk ke Ruang Dakwah

Dalam aktivitas dakwah, persoalan ini mempunyai dimensi yang lebih sensitif.
Seorang Muslim tentu tidak harus merelatifkan ajaran agama hanya karena menyadari adanya bias kognitif. Berpegang teguh kepada prinsip bukanlah persoalan.

Yang perlu dibedakan adalah keyakinan terhadap prinsip dengan keyakinan bahwa setiap pembacaan kita terhadap sebuah peristiwa pasti benar. Seseorang dapat benar dalam memegang sebuah prinsip, tetapi keliru mendapatkan informasi. Ia dapat benar dalam mengutip dalil, tetapi kurang tepat menerapkannya pada sebuah kasus.

Ia juga dapat memiliki niat membela Islam, sementara fakta yang menjadi dasar kesimpulannya ternyata tidak lengkap.
Karena itu, dalil, penafsiran terhadap dalil, fakta tentang suatu peristiwa, dan kesimpulan pribadi sebaiknya tidak dicampurkan begitu saja.

Ada risiko lain yang disebut cherry-picking: kita memilih bukti tertentu karena mendukung kesimpulan yang telah dibuat sebelumnya, sementara informasi yang tidak sesuai dikesampingkan. Hal serupa dapat terjadi dalam penggunaan dalil.

Persoalannya tentu bukan karena dalil digunakan. Dalil justru menjadi rujukan penting bagi seorang Muslim. Yang perlu dihindari adalah mencari dalil semata-mata untuk mengesahkan kesimpulan yang sebelumnya sudah diputuskan, tanpa memeriksa konteks, keterangan ulama, atau dalil lain yang juga berkaitan dengan persoalan tersebut.

4. Tabayyun Jangan Hanya Berlaku kepada Lawan

Al-Qur’an memberi tuntunan penting dalam menerima berita. Dalam QS. Al-Hujurat [49]: 6, kaum Muslimin diperintahkan meneliti kebenaran berita agar tidak mengambil tindakan karena ketidaktahuan yang kemudian menimbulkan penyesalan.

Prinsip tabayyun ini terasa semakin penting di tengah arus informasi digital. Namun tanpa disadari, kita kadang menerapkannya secara tidak seimbang. Ketika sebuah berita menyerang tokoh yang kita hormati, kita menuntut sumber asli. Kita mencari video lengkap. Kita memeriksa tanggal, konteks, dan siapa yang pertama kali menyebarkannya.

Semua itu memang seharusnya dilakukan.
Tetapi standar pemeriksaan yang sama juga diperlukan ketika berita tersebut menyerang pihak yang tidak kita sukai atau justru menguntungkan kelompok yang kita dukung.
Berita yang kita sukai tidak mendapat dispensasi dari tabayyun.

Bahkan informasi yang terasa sangat cocok dengan dugaan kita patut mendapat perhatian lebih. Rasa “ini memang seperti yang saya duga” bisa membuat kewaspadaan menurun justru ketika kewaspadaan paling dibutuhkan.

5. Menghormati Tokoh Tanpa Mematikan Daya Kritis

Bias konfirmasi juga dapat bekerja melalui hubungan kita dengan tokoh yang dihormati.
Menghormati ulama, ustaz, guru, dan pemimpin merupakan bagian dari adab. Namun penghormatan tidak mengharuskan kita menerima setiap informasi yang beredar atas nama mereka tanpa pemeriksaan.
Apalagi di media sosial, potongan ceramah, kutipan pendek, screenshot, dan video beberapa detik dapat beredar jauh dari konteks aslinya.

Memeriksa sumber tidak sama dengan kehilangan adab. Justru ketika seseorang memiliki pengaruh besar terhadap cara kita memandang suatu persoalan, kita perlu lebih berhati-hati memastikan apa yang sebenarnya ia katakan, dalam konteks apa, dan mengenai persoalan apa.

Dengan begitu, penghormatan kepada seseorang tidak berubah menjadi kebiasaan menyerahkan proses berpikir sepenuhnya kepada orang tersebut.

6. Bias Paling Sulit Dilihat Adalah Bias Sendiri

Ada ironi dalam pembicaraan tentang bias.
Setelah mengetahui istilah confirmation bias, cherry-picking, atau echo chamber, kita bisa menjadi sangat pandai menemukan semuanya pada orang lain.

“Dia hanya membaca media kelompoknya.”
“Mereka cuma mencari dalil yang mendukung pendapat sendiri.”

“Kelompok itu hidup di dalam echo chamber.” Bisa jadi penilaian tersebut benar. Tetapi pengetahuan tentang bias akan jauh lebih berguna jika terlebih dahulu diarahkan kepada diri sendiri.

Apakah kita menerapkan standar pembuktian yang sama kepada kelompok yang kita sukai dan kelompok yang kita kritik?

Apakah kesalahan yang dilakukan pihak lain kita nilai dengan ukuran yang sama ketika dilakukan orang yang berada di pihak kita?
Apakah kita membaca argumen lawan sebagaimana kita ingin argumen kita sendiri dibaca?

Di titik inilah muhasabah menemukan relevansinya dalam kehidupan informasi.
Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan amal yang tampak. Ia juga dapat menyentuh cara kita menerima kabar, menimbang bukti, membentuk prasangka, dan mengambil sikap terhadap orang lain.

7. Tidak Semua Perbedaan Adalah Penyimpangan

Kehati-hatian juga dibutuhkan ketika menghadapi perbedaan pendapat, terutama dalam persoalan sosial, kebijakan, strategi, dan perkara yang memang membuka ruang ijtihad. Tidak setiap perbedaan kesimpulan lahir karena seseorang menolak kebenaran.

Dua orang dapat menerima informasi yang berbeda. Mereka dapat memberi bobot berbeda kepada sebuah risiko. Mereka juga dapat memahami konteks, dalil, atau pertimbangan kemaslahatan dengan cara yang berbeda.

Tentu ini tidak berarti semua pendapat otomatis sama benarnya. Yang diperlukan adalah kemampuan membedakan perkara yang memiliki dasar prinsip yang jelas dengan perkara ijtihadiyah atau strategi yang memang menyediakan ruang perbedaan.

Tanpa pembedaan itu, perdebatan mudah berubah menjadi pertarungan identitas.
Yang dibela akhirnya bukan lagi kekuatan dalil dan argumentasi, melainkan kelompok dan posisi masing-masing.

8. Melatih Diri Keluar dari Echo Chamber

Bias konfirmasi mungkin tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi pengaruhnya dapat ditekan dengan kebiasaan yang lebih disiplin. Mulailah dengan memperluas sumber informasi. Tidak semua sumber harus kita setujui, tetapi sesekali membaca argumen terbaik dari pandangan yang berbeda dapat membantu kita mengetahui apakah kita memahami persoalan secara utuh.

Bedakan pula fakta dengan interpretasi. Bahwa sebuah peristiwa terjadi merupakan satu hal; penjelasan mengenai mengapa peristiwa itu terjadi bisa menjadi perkara lain. Ketika sebuah klaim terasa sangat meyakinkan, cari sumber yang mungkin membantahnya. Bukan agar kita selalu berubah pendapat, tetapi agar kesimpulan tersebut benar-benar pernah diuji.

Periksa sumber asli sejauh memungkinkan. Jangan berhenti pada judul, potongan video, tangkapan layar, atau komentar akun lain.
Dan yang paling sulit: gunakan standar pembuktian yang sama kepada kawan maupun lawan.

Kalau kita menuntut bukti ketika sebuah tuduhan diarahkan kepada pihak yang kita dukung, tuntutan yang sama mestinya berlaku ketika tuduhan tersebut diarahkan kepada pihak yang tidak kita sukai.

9. Dakwah Membutuhkan Keberanian Mengoreksi Diri

Dakwah membutuhkan keberanian menyampaikan kebenaran. Tetapi keberanian itu perlu ditemani kerendahan hati untuk mengakui bahwa pemahaman kita terhadap sebuah fakta masih mungkin keliru.

Niat yang baik tidak otomatis membuat semua informasi yang kita terima menjadi benar. Semangat membela agama juga tidak menjamin bahwa pembacaan kita terhadap setiap peristiwa selalu tepat.

Karena itu, ada kalanya kalimat yang paling bertanggung jawab bukanlah pernyataan yang paling tegas, melainkan: “Saya mungkin keliru. Mari kita periksa lagi.” Kalimat itu tidak mengurangi keyakinan terhadap kebenaran.

Ia hanya menempatkan manusia pada tempatnya: seseorang yang berusaha mengikuti kebenaran, tetapi tetap mungkin salah ketika membaca fakta dan membuat kesimpulan.

Dan barangkali di situlah tabayyun seharusnya dimulai: bukan hanya dengan memeriksa berita yang datang dari luar, tetapi juga dengan memeriksa cara kita sendiri mempercayainya.

Mengevauasi kembali keyakinan dan prasangka pribadi merupakan bentuk kehati-hatian dalam berislam, menjaga agar ketaqwaan kita tidak tercederai oleh keangkuhan kognitif.

Penulis: Cak Arip adalah seorang aktifis dan pemerhati isu-isu Islam kontemporer, media sosial, serta dinamika dakwah digital.

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |