Oleh: Amila
Generasi yang melek teknologi, kreatif, adaptif, dan berani, berpotensi sebagai motor penggerak perubahan. Begitulah generasi Z (genZ) dikenal. Namun, di balik kehidupan yang tampak dinamis ini, terpendam persoalan yang cukup serius. Ketika biaya hidup, kualitas masa depan yang masih samar, dan tuntutan kemandirian berhadapan dengan kemampuan finansial dan kesempatan-kesempatan yang terbatas, generasi muda tidak hanya menghadapi persoalan ekonomi.
Mereka juga menghadapi tekanan psikologis dan sosial. Bagaikan di persimpangan jalan yang rumit, begitulah sekiranya yang tergambar saat ini. Deloitte Global Survey 2026 mendata sekitar 48% Gen Z secara global merasa tidak aman secara finansial dan hidup dari gaji ke gaji (paycheck-to-paycheck). Berbeda pula dengan generasi sebelumnya yang mengejar pertumbuhan karir, Gen Z tahun 2026 lebih memprioritaskan stabilitas, kesehatan mental, dan keseimbangan beban kerja sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.
Menariknya, di tengah kecemasan akan kestabilan finansial, generasi muda justru hidup di tengah budaya yang mendorong tingkah laku konsumtif. Self-reward, healing, nongkrong, traveling, membeli barang yang sedang tren, sering diposisikan sebagai kebutuhan agar mental tetap sehat. Para pakar menjelaskan bahwa inilah bentuk mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sangat relevan saat ini.
Berbelanja bukan lagi soal gengsi, melainkan cara instan untuk mendapatkan kebahagiaan (instant gratification) di tengah dunia yang serba tak pasti. Ditambah beragam tren yang muncul di algoritma media sosial sangat kuat mendikte untuk belanja terus menerus.
Bersantai dan menikmati hasil kerja, tentu bukan sesuatu yang keliru. Persoalan utamanya adalah ketika aktivitas ‘belanja’ menjadi sumber kebahagiaan dan dijadikan pelarian dari tekanan hidup yang ada. Slogan persuasif seperti “work hard play hard”, “you only live once”, akhirnya membuat kebutuhan dan keinginan akan semakin sulit dibedakan.
Kita harus menyadari dan memahami bahwa kapitalisme lah sebab utama kehidupan sempit yang terjadi hari ini. Berputarnya roda ekonomi berbasis non riil, upah yang tak sebanding dengan kebutuhan, harga bahan baku melambung tinggi, akhirnya membuat kita merasa tak punya kuasa atas masa depan.
Kapitalisme menempatkan aktivitas ekonomi pada mekanisme pasar dan kebebasan atas kepemilikan yang memungkinkan akumulasi kekayaan berkumpul di pihak tertentu saja. Di lain sisi, kebutuhan manusia diposisikan sebagai komoditas dagang. Pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan ragam kebutuhan primer lainnya membutuhkan biaya yang tidak murah. Bahkan hiburan dan ketenangan psikologis pun ada ongkosnya.
Selain merusak tatanan ekonomi, kapitalisme juga merusak cara pikir kita dengan ide-ide turunannya, seperti sekulerisme dan liberalisme. Sekulerisme membuat kita keliru dalam memandang masalah beserta solusinya. Pemisahan agama dari kehidupan, membuat religiusitas jauh meninggalkan kita. Ujian-ujian dalam hidup mudah mengguncang diri, healing menjadi solusi. Sekulerisme yang disandingkan dengan liberalisme membuat kita merubah haluan hidup menjadi keduniawian.
Kebahagiaan digeser maknanya menjadi kesenangan hidup semata seperti keberlimpahan harta, ketenaran, dll. Di balik itu semua ada krisis yang lebih dalam, yakni ketika Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga segala sesuatunya tidak diukur berdasarkan ridha Allah dan kemuliaan Islam melainkan disetir oleh tren, algoritma, pencapaian duniawi yang sebenarnya semu.
Untuk memperbaiki hidup generasi muda, tidak hanya dengan pengetahuan soal literasi dan manajemen keuangan. Tapi sistem kehidupan juga harus berganti melalui penerapan nilai dan aturan-aturan. Sistem Islam menegaskan bahwa negara semestinya hadir sebagai pengurus rakyatnya, bukan hanya menjadi regulator yang mengawasi pasar.
Negara wajib memastikan kebutuhan dasar tiap individu terpenuhi dengan baik, tiap warga negara berkemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi dirinya dan keluarganya. Hal ini dapat diawali dengan melakukan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) secara mandiri, tidak diprivatisasi, dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat.
Negara juga berkewajiban menciptakan lapangan kerja yang layak, sehingga rakyat khususnya generasi muda tidak lagi merasa berjuang sendirian dalam jeratan kapitalisme. Sebab kapitalisme membuat gap yang nyata soal siapa yang akhirnya mampu bertahan. Bagi yang memiliki modal dan akses akan lebih mudah bertahan, sementara yang tidak memiliki keduanya harus berjuang lebih keras.
Di sisi lainnya, media harus diatur oleh negara agar menampilkan konten yang bermanfaat. Islam tidak membiarkan masyarakat dibentuk oleh arus informasi tanpa batas. Konten yang memuat hal-hal yang sifatnya menjauhkan diri dari ketaatan pada Allah dan malah menghamba pada dunia akan dilarang untuk beredar luas.
Di saat yang sama, negara merancang sistem pendidikan berbasis Islam yang bertujuan membentuk manusia dengan akidah yang kokoh, memahami halal-haram, bertujuan hidup yang jelas sesuai arahan Pencipta, serta menyadari bahwa dunia bukanlah tujuan akhir.
Hasilnya, seorang pemuda Muslim hanya akan melakukan sesuatu yang bermanfaat, sesuai dengan panduan Quran dan Sunnah. Tidak lagi mementingkan pandangan mata dan pengakuan dari manusia. Keberhargaan diri tidak diukur melalui barang bermerek, liburan mahal, atau validasi warganet di media sosial.
Generasi muda dalam menjalani kehidupan harus bervisi besar dan benar dengan ideologi Islam. Ia belajar, bekerja, mengaktualisasikan dirinya agar menjadi manusia yang memberi manfaat, sebagai bagian dari amal. Hingga akhirnya lahir generasi pemuda yang tangguh, bukan generasi stroberi yang mudah hancur oleh himpitan kehidupan. Melainkan sebagai pembangun peradaban Islam yang mulia.

3 hours ago
1












































