Mahasiswa dan Aktivis Batam Diskusi Isu Papua Lewat Film Pesta Babi

5 hours ago 6
Mahasiswa, aktivis dan

AlurNews.com – Ratusan warga, mahasiswa, dan pemuda di Kota Batam menghadiri nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi yang digelar DPD Batam bersama HMI Batam dan Aksi Kamisan Kepulauan Riau, Minggu (24/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi publik untuk membahas persoalan kemanusiaan, perampasan ruang hidup, hingga isu kolonialisme modern yang dinilai masih terjadi di Papua.

Film dokumenter Pesta Babi menampilkan realitas masyarakat adat Papua yang terdampak pembangunan dan proyek investasi berskala besar. Dokumenter itu juga menyoroti dampak sosial dan ekologis yang muncul akibat proyek pembangunan yang dinilai minim melibatkan masyarakat adat.

Suasana nobar berlangsung khidmat. Peserta menyaksikan pemutaran film di ruang terbuka sebelum melanjutkan diskusi bersama sejumlah pemantik dari kalangan aktivis, akademisi, dan organisasi mahasiswa.

Pemantik diskusi terdiri dari perwakilan DPD Batam Nanang Kurniawan, HMI Batam Andri Saputra, Aksi Kamisan Kepri El-Ghazzali, aktivis Indonesia Timur Ridwan Harun, serta dosen hukum Universitas Internasional Batam (UIB), Excel Brayen.

Dalam diskusi, para pembicara menilai pembangunan kerap dijadikan alasan untuk membuka eksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan maupun hak masyarakat adat. Papua disebut bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang hidup yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual bagi masyarakat adat.

PIC Distrik Berisik Batam, Nanang Kurniawan, mengatakan kegiatan itu tidak hanya sebatas menonton film, tetapi juga membangun kesadaran publik terhadap persoalan kemanusiaan di Papua.

“Kami ingin menghadirkan ruang dialog yang jujur dan terbuka. Papua tidak boleh hanya dilihat dari sudut keamanan dan investasi semata, tetapi juga dari perspektif kemanusiaan, keadilan ekologis, dan hak masyarakat adat,” ujar Nanang.

Ia menilai film dokumenter dapat menjadi medium untuk mengajak masyarakat lebih peka terhadap ketimpangan sosial dan dampak pembangunan yang tidak melibatkan rakyat secara langsung.

Diskusi juga menekankan pentingnya solidaritas masyarakat sipil dalam mengawal isu lingkungan dan hak asasi manusia. Para peserta berharap suara masyarakat adat Papua mendapat perhatian lebih luas di tengah masifnya proyek industri ekstraktif dan pembangunan berskala besar.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan ruang alternatif diskusi publik di kalangan anak muda Batam masih tumbuh. Melalui film dan dialog terbuka, peserta diajak memahami persoalan sosial dan ekologis yang terjadi di berbagai daerah, khususnya Papua. (red)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |