Waduk Nongsa Alami Penyusutan 2,5 Meter, Batam Disebut Hadapi Krisis Air Baku

15 hours ago 7
Waduk Nongsa Batam alami penyusutan hingga 2,5 meter. (Foto: Akar Bhumi)

Alurnews.com – Tinggi muka air baku pada Waduk Nongsa, Kelurahan Sambau, Batam, Kepulauan Riau mengalami penyusutan hingga 2,5 meter. Temuan ini merupakan verifikasi lapangan yang dilakukan salah satu organisasi lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI).

Pendiri ABI Hendrik, Hermawan mengatakan penyusutan muka air Waduk Nongsa dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari menurunnya fungsi daerah tangkapan air (DTA), minimnya curah hujan, hingga kebutuhan air yang terus meningkat.

“Jika merujuk pada kapasitas produksi optimal Waduk Nongsa 60 liter per detik, maka dalam setahun diproyeksikan menghasilkan air sekitar 1,9 juta meter kubik,” jelasnya saat ditemui di kawasan Batam Center, Kamis (6/8/2026).

Selain penyusutan muka air, ABI juga menemukan persoalan sedimentasi di Waduk Nongsa. Hendrik mengatakan sekitar 250 meter area permukaan waduk telah dipenuhi sedimen berupa material tanah merah yang terbawa melalui tali air.

Material tersebut diduga berasal dari aktivitas pemotongan bukit dan penambangan pasir ilegal di sekitar daerah tangkapan air.

“Material tersebut bahkan sudah mengeras menyerupai daratan dengan permukaan yang retak seperti tanah yang mengalami kekeringan,” jelasnya.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, proyeksi kebutuhan air baku hanya untuk Kecamatan Nongsa pada 2026 mencapai sekitar 20 juta meter kubik. Hal ini belum termasuk terkait kebutuhan air untuk sektor industri, perdagangan, pariwisata, dan pusat data yang berkembang di wilayah Batam bagian timur.

Menurut Hendrik, kondisi itu menunjukkan adanya kesenjangan antara kapasitas sumber air baku dan kebutuhan masyarakat.

“Mengacu pada Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Batam Tahun 2026 disebutkan kebutuhan air domestik untuk sekitar 1,39 juta penduduk Batam mencapai 280 juta meter kubik per tahun.Sementara ketersediaan air tahunan diperkirakan sekitar 139 juta meter kubik,” ujarnya.

Dari data itu, Hendrik menyebut Batam mengalami defisit air baku sekitar 141 juta meter kubik per tahun.

Ia menilai kebijakan penjatahan air atau water rationing serta pendistribusian air menggunakan mobil tangki ke sejumlah permukiman merupakan salah satu indikator tekanan terhadap ketersediaan air baku.

“Krisis air itu sudah terjadi, tapi BP Batam menutup-nutupi,” jelasnya.

Saat ini, BP Batam sendiri telah mengalihkan pasokan air baku untuk kebutuhan domestik di Nongsa dari Waduk Duriangkang melalui Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum.

Hendrik menilai pengalihan pasokan dari satu bendungan ke bendungan lain hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek.

“Batam merupakan pulau kecil yang tidak memiliki sungai sebagai sumber air baku seperti wilayah lain di Indonesia,” ujarnya.

Pihak ABI sendiri menilai perlunya perlindungan enam bendungan utama di mainland Batam, yakni Nongsa, Seiharapan, Seiladi, Mukakuning, Tembesi, dan Duriangkang.

Hal ini diutarakan paska temuan pembukaan lahan baru seluas lebih dari dua hektare menggunakan alat berat di kawasan DTA Bendungan Nongsa.

Menurut Hendrik, tekanan terhadap sumber air baku juga terjadi di Bendungan Tembesi. Aktivitas pertanian disebut berpotensi menurunkan kualitas air akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang terbawa aliran.

Selain itu, terdapat aktivitas peternakan, pabrik batu bata, pabrik tahu, tambak ikan, hingga aktivitas pembakaran hutan dan pengalokasian lahan untuk pariwisata dan industri di kawasan DTA.

Hendrik juga meminta rencana pembangunan PLTS terapung di Bendungan Tembesi dikaji secara hati-hati agar tidak mengganggu fungsi bendungan sebagai sumber air baku.

“Jangan sampai demi mengejar energi bersih, kita mengorbankan sumber air baku,” ujarnya. (Nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |