AlurNews.com – Warga Kampung Nelayan Pulau Sembur, Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau akhirnya dapat merasakan listrik memadai di usia Kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Kini desa nelayan yang dominan dikurung gelap pada malam hari, sudah dapat menikmati penerangan 24 jam.
Penerangan di salah satu pulau terluar di Kota Batam ini, masuk ke dalam program PLTS dengan total kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diresmiman Presiden Prabowo Subianto di Monumen Operasi Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026) kemarin.
Pulau ini, mendapatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1 megawatt peak (MWp) yang dikembangkan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Proyek yang mulai dibangun secara bertahap, sejak Desember 2025 hingga Agustus 2026.
Bagi warga Pulau Sembur listrik bukan sekadar fasilitas. Ghazarman (60) salah satu warga yang telah bermukim di Pulau Sembur selama lima generasi, menyebutkan penerangan pada malam hari menjadi sesuatu yang harus mereka usahakan sendiri.
Selain lampu petromak, warga yang memiliki kemampuan finansial harus membeli genset sendiri. Sementara warga lainnya patungan menggunakan satu genset untuk beberapa rumah.
“Kalau listrik di sini sejak saya kecil memang tidak ada. Bagi orang yang berada, dia bisa membeli genset,” ujar Ghazarman sembari berjalan saat ditemui di dermaga Pulau Sembur, Selasa (25/8/2026) sore.
Untuk sistem patungan tersebut, warga membayar sekitar Rp5.000 per rumah untuk satu lampu setiap malam. Listrik hanya menyala sejak pukul 18.00 hingga 22.00 atau 23.00 WIB setiap harinya.
Dengan biaya tersebut, warga hanya dapat menyalakan penerangan sederhana. Penggunaan peralatan elektronik lain pun terbatas karena daya genset dan biaya bahan bakar.
“Jadi dari jam enam sore sampai jam sebelas itu Rp5.000 per rumah. Itu untuk BBM dan operasional genset,” jelasnya.
Ghazarman mengatakan listrik dari PLTS membuat aktivitas warga pada malam hari menjadi jauh lebih mudah. Warga dapat beribadah, mengaji, dan melakukan aktivitas rumah tangga tanpa harus menunggu genset dinyalakan.
Pembangunan PLTS tersebut juga memiliki cerita tersendiri bagi Ghazarman. Ia menghibahkan tanah warisan orangtuanya seluas 3 hektare untuk digunakan sebagai lokasi pembangunan fasilitas energi dan peletakan solar panel.
Baginya, keputusan tersebut bukan semata-mata soal lahan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada orangtuanya sekaligus harapan agar kampung tempat ia tumbuh dapat menikmati listrik.
“Saya menghibahkan lahan ini karena ini lahan orang tua. Saya berharap dengan terangnya pulau ini, orang tua saya yang telah tiada juga mendapatkan amal,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyebut biaya listrik ke depan tetap menjadi perhatian warga. Saat ini perkiraan biaya yang harus dibayarkan sekitar Rp150.000 per bulan untuk penggunaan listrik rumah tangga.
Hal serupa disampaikan Suharti (50), warga Kampung Nelayan Pulau Sembur yang mengisi aktifitas sehari-hari dengan berjualan jajanan, minuman, hingga mie rebus. Suharti mengatakan perubahan paling terasa adalah durasi listrik yang kini jauh lebih panjang.
Jika sebelumnya listrik dari genset hanya tersedia sekitar empat jam pada malam hari, kini warga dapat menikmati listrik sejak siang hingga pagi. Terutama saat instalasi listrik ke semua rumah warga dipasang secara percuma, walau belum diberi meteran selayaknya pelanggan.
“Listrik sudah dari jam dua siang sampai pagi,” ujarnya.
Bagi Suharti, perubahan tersebut membuat suasana kampung berbeda. Rumah yang sebelumnya gelap setelah genset dimatikan kini tetap terang. Suharti juga menerangkan, berdasarkan informasi yang didapat npada tahap awal, warga mendapatkan listrik secara gratis sebelum nantinya sistem pembayaran menggunakan token diberlakukan.
“Listrik dari tanggal 18 gratis sampai tanggal 30. Kami dengar informasinya rencananya pakai token,” ujarnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Haris menjelaskan bahwa PLTS Pulau Sembur dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 200 kepala keluarga, termasuk 158 rumah. Selain rumah warga, listrik juga digunakan untuk fasilitas umum dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
“Dengan kapasitas satu MW tadi dengan baterai satu MW itu sudah sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan 24 jam per hari masyarakat Sembur,” jelasnya saat turut hadir langsunc meresmikan PLTS di Pulau Sembur, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, masih terdapat potensi kelebihan listrik yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif. Salah satunya melalui fasilitas rantai dingin berupa cold storage dan ice maker yang telah disiapkan di Pulau Sembur.
Proyek ini dilengkapi ice maker berkapasitas 4 ton per hari serta cold storage berkapasitas 5 ton. Fasilitas tersebut diharapkan membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan sehingga ikan tidak cepat rusak dan dapat dijual dengan nilai lebih tinggi.
“Infrastruktur energi tersebut juga dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama nelayan,” lanjunya.
Haris mengatakan keberadaan cold storage menjadi salah satu bentuk nyata pemanfaatan energi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Ia berharap fasilitas tersebut ke depan dapat dimanfaatkan untuk menyimpan komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti ikan kerapu dan rajungan.
Selain itu, kelebihan listrik di Pulau Sembur juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk melayani kebutuhan pulau-pulau di sekitarnya.
“Harapannya tidak hanya fasilitas ini menyediakan khusus untuk di Pulau Sembur. Karena listriknya berlebih, mungkin juga nanti di pulau-pulau sekitar,” jelasnya.
Beralih dari genset berbahan bakar minyak ke energi surya juga memberikan dampak terhadap penggunaan bahan bakar. PLTS Pulau Sembur diproyeksikan menghemat penggunaan BBM sekitar 877 liter per hari atau sekitar 320.000 liter per tahun.
Penghematan tersebut berpotensi mengurangi biaya pembelian BBM hingga sekitar Rp3,5 miliar-Rp5 miliar per tahun. Bagi masyarakat, manfaat ekonomi juga dirasakan dari berkurangnya pengeluaran untuk kebutuhan listrik rumah tangga.
Haris menyebut sebelumnya warga dapat mengeluarkan sekitar Rp500.000 per bulan untuk kebutuhan genset. Dengan adanya PLTS, biaya tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar Rp200.000 per bulan, bergantung pada pemakaian.
“Kalau kita lihat dari sisi affordability, warga masyarakat di sini biasanya spending sekitar Rp500.000 rupiah per bulan untuk genset. Sekarang dengan adanya energi yang melimpah, spending-nya lebih murah, hanya sekitar Rp200.000 per bulan,” ujarnya. (Nando)

2 hours ago
3


















































