SOLO (jurnalislam.com)- Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ungkapan yang terucap di lisan. Ia adalah cinta yang semestinya hadir dalam pilihan, sikap, akhlak, dan seluruh kehidupan seorang muslim. Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ berarti bersedia mengikuti jalan yang beliau ajarkan dan menjadikan kehidupan beliau sebagai teladan.
Pesan tersebut menjadi inti khutbah Jumat yang disampaikan H. Heri Sucitro, S.Pd., Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta, di Masjid Al Mukarrom, Sogaten, Pajang, Laweyan, Surakarta, Jumat Wage, (4/9/2026), bertepatan dengan 22 Rabi’ul Awwal 1448 H. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, beliau mengangkat tema “Membuktikan Cinta kepada Rasulullah ﷺ.”
Dalam khutbahnya, H. Heri mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, perdagangan, dan kehidupan dunia tidak sampai mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu merupakan salah satu sebab seorang mukmin dapat merasakan manisnya iman.
Sejarah kehidupan para sahabat memberikan teladan bagaimana cinta tersebut diwujudkan secara nyata. Bilal bin Rabah, misalnya, memiliki kerinduan yang begitu mendalam kepada Rasulullah ﷺ. Demikian pula Tsauban, yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ hingga khawatir tidak dapat berkumpul bersama beliau di akhirat. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan kecintaannya melalui pengorbanan ketika mendampingi dan melindungi Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah.
Dari keteladanan tersebut, cinta kepada Rasulullah ﷺ setidaknya dapat diwujudkan melalui beberapa hal.
Pertama, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai cermin kehidupan. Mencintai Nabi bukan hanya dengan mengagumi sosok dan sejarah beliau, tetapi berusaha meneladani akhlaknya. Rasulullah ﷺ dikenal lembut dalam berbicara, penuh kasih sayang, mudah memaafkan, sekaligus tegas dalam membela kebenaran. Karena itu, dalam mengambil keputusan, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya, “Apakah cara yang saya tempuh ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?”
Kedua, menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Sunnah tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi harus menjadi jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama. Di tengah lingkungan yang semakin jauh dari nilai agama, menghidupkan sunnah memang membutuhkan kesungguhan. Namun, di situlah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diuji.
Ketiga, memperbanyak shalawat. Shalawat merupakan salah satu bentuk cinta dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Membiasakan lisan bershalawat dapat menjadi pengingat agar hati senantiasa dekat dengan beliau. Namun, shalawat hendaknya tidak berhenti pada kebiasaan lisan, melainkan mendorong kita untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.
Keempat, menjaga nama baik agama melalui akhlak. Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa perilakunya dapat menjadi cerminan bagaimana orang lain memandang Islam. Perkataan kasar, ketidakjujuran, maupun akhlak buruk dapat membuat orang lain memiliki pandangan negatif terhadap agama. Sebaliknya, seorang muslim seharusnya menghadirkan keindahan Islam melalui sikap santun, amanah, jujur, penuh kasih sayang, dan bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup dibuktikan dengan rasa rindu, pujian, ataupun shalawat yang terucap. Cinta membutuhkan bukti. Ia harus tampak dalam cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, serta menjalani kehidupan sehari-hari.
Ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan semata-mata seberapa sering kita mengatakan mencintai beliau, tetapi seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan ajaran dan akhlak beliau.
Sebab, cinta yang sejati tidak berhenti di hati dan lisan. Ia harus terlihat dalam akhlak, sunnah, pengorbanan, dan kehidupan sehari-hari.

3 hours ago
3

















































