Penguasa yang Dicintai Rakyatnya

10 hours ago 4

Oleh: Herliana Tri, M. S.P

Kerusakan para pejabat di negeri ini semakin nyata. Gaji dan tunjangan mereka sangat besar. Fasilitas melimpah. Namun, korupsi tetap merajalela. Seakan gaji fantastis tak mencukupi memenuhi ” kebutuhan dunianya” Alih-alih berpihak kepada rakyat, kebijakan mereka lebih sering memanjakan oligarki.

Inilah wajah asli pemimpin rakyat dari masa ke masa. Rakyat selalu berharap akan hadirnya pemimpin yang mampu mengayomi dan melindunginya. Namun serasa harapan fatamorgana dalam sistem sekuler saat ini. Saat agama hanya berhenti pada sajadah masjid, dan lepas saat mengatur urusan rakyat. Harapan akan hadirnya pengayom, keinginan, impian, atau tujuan yang tampak indah dan meyakinkan, namun sebenarnya hanyalah khayalan (ilusi) yang tidak nyata dan mustahil digapai.

Hausnya rakyat akan kepemimpinan yang melindunginya dan berpihak pada kepentingannya menjadikan rakyat ini rindu keteladanan pemimpin. Wajar saat muncul tokoh yang berani bersuara sebagaimana munculnya juru bicara pejuang Palestina yang fenomenal, berhasil “membius mata dunia” dan mengelu-elukan sebagai pahlawan yang didamba.

Keteladanan Pemimpin yang Dicintai

Islam kaya akan tokoh teladan yang dicintai umatnya. Kokohnya iman, kuatnya memegang tali agama Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kecintaan pada rakyat dan posisi dirinya sebagai perisai sejati, yang siap berada pada garda terdepan, melindungi, menjadikan pemimpin umat Islam selalu mendapat cinta dan tempat di hati warga negaranya.

Contoh ideal yang seharusnya menjadi figur keteladanan bagi semua pemimpin dunia terutama pemimpin umat Islam adalah sosok Rasulullah saw. Keteladanan tanpa cela karena Rasulullah sebagai nabi utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus menjadi pemimpin negara besar yang melahirkan tokoh-tokoh handal hasil ‘didikan’ beliau. Bahkan tokoh- tokoh besar yang lahir meski mereka tak pernah bertemu Rasulullah. Meneladani sosok Rasulullah dan berusaha menempa diri dan melayakkan diri menjadi tokoh inspiratif terbaik pada zamannya.

Islam memandang penguasa adalah râ’in (penggembala). Mereka wajib memelihara urusan rakyat dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jabatan bukanlah sarana memperkaya diri, serta keluarga dan kolega, tetapi amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Meneladani penguasa dalam Islam berarti mencontoh kepemimpinan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam yang adil, bijaksana dan senantiasa menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa pandang bulu. Begitu pula Khulafaur Rasyidin setelahnya, menganggap kekuasaan sebagai amanah, bukan sumber keuntungan pribadi. Islam memandang kekuasaan sebagai wasilah (sarana) untuk menegakkan syariah secara menyeluruh demi mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Kekuasaan adalah instrumen mulia, menjaga agama sekaligus mengatur dunia dengan keadilan.

Wajar dengan penerapan Islam kaffah sebagaimana yang diteladankan Rasulullah saw menjadikan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam ditempatkan sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh dalam sejarah oleh astrofisikawan Michael H. Hart yang cukup menggemparkan dalam bukunya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”.

Rasulullah dipilih sebagai sosok satu-satunya figur dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan tertinggi, baik dalam bidang agama maupun duniawi. Ini adalah penilaian obyektif yang disematkan atas penerapan Islam yang dibawa Rasulullah. Bahkan digambarkan bahwa ajaran dan pengaruhnya tetap relevan dan diikuti oleh miliaran manusia bahkan lebih dari 13 abad setelah wafatnya.

Wujud Kecintaan Rakyat

Kecintaan rakyat kepada pemimpinnya tak membutuhkan setingan khusus atau sebatas opini yang diaruskan untuk mendapatkan dukungan. Bukan dengan memanipulasi data, berita atau menutupi fakta sebenarnya agar terlihat bagus meski sebenarnya banyak peristiwa yang sengaja ditutup-tutupi. Bahkan memenjarakan rakyat yang berusaha menunjukkan kebenaran fakta. Tentu tidak dengan cara demikian.

Pemimpin yang faham akan tugasnya sebagai pelaksana syariah Allah Subhanahu wa Ta’ala faham akan tugas beratnya menjalankan amanah. Hati- hati dalam bertindak dan mengambil keputusan agar tak ada rakyat yang terdzolimi.

Salah satu contoh hasil pembinaan langsung Rasulullah adalah kisah Umar bin Khattab saat paceklik (Tahun Ramadah, sekitar 18 Hijriah). Salah satu bukti keteladanan pemimpin yang memikul penderitaan rakyatnya. Beliau tidak hanya mengatur kebijakan dari balik meja, tetapi terjun langsung merasakan penderitaan rakyat.

Sebagai wujud empaty dan merasakan derita rakyatnya, Umar memilih hidup Sederhana dan menolak makanan mewah. Umar bersumpah untuk tidak makan makanan enak (seperti samin/mentega, susu, dan daging) sampai seluruh rakyatnya bisa menikmatinya kembali. Beliau hanya makan roti kasar dan minyak zaitun.

Ini hanyalah salah satu.contoh sikap keteladanan dibalik banyaknya keteladanan sikap dan pengurusan mereka terhadap rakyatnya. Wajar kesungguhan mereka berbuah kecintaan rakyat untuk pemimpinnya. Ibarat penguasa hidup mewah pun, rakyat tak akan iri hati, bahkan mendukungnya sebagai wujud kecintaan dan memuliakan pemimpin yang selalu menjaga dan memberikan perlindungan penuh untuknya. Meski pada faktanya sebagian besar penguasa Islam lebih memilih hidup sederhana dan fokus beramal, mengurus negaranya.

Contoh- contoh keteladanan yang berserakan dalam penerapan syariat Islam kafah, sudah seharusnya menjadikan pemimpin negeri ini sadar akan amanah dan tanggung jawab berat mengurus negeri ini. Puasa ini bisa menjadi bahan evaluasi diri baik skala individu maupun memutuskan kebijakan’. Kesalahan dalam mengambil keputusan efeknya dapat membahayakan seluruh rakyat dalam naungannya.

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |