Final Voli Piala Wali Kota Batam Ricuh, Wali Kota Dievakuasi dari Arena

20 hours ago 11
Atmosfer final turnamen voli yang mempertemukan tim PGRI Batam dan BP Batam dalam memperebutkan piala Wali Kota Batam, Minggu (17/5/2026) malam. (Foto: AlurNews)

AlurNews.com – Atmosfer final turnamen voli yang mempertemukan tim PGRI Batam dan BP Batam dalam memperebutkan piala Wali Kota Batam, Minggu (17/5/2026) malam berubah menjadi ajang kericuhan antar suporter. Berawal dari gestur saling ejek, pendukung kedua tim kemudian terlibat aksi saling lempar botol mineral.

Tindakan antar pendukung kedua tim voli ini, membuat petugas keamanan langsung turun ke lokasi dan berusaha mengamankan situasi. Tidak hanya itu, Walikota Batam, Amsakar Achmad beserta istri juga terpaksa dievakuasi keluar dari lokasi pertadingan yang berada di Gor Abdul Jafar, Tiban Center, Batam, Kepulauan Riau.

Seorang saksi mata di lokasi, Riama, mengatakan situasi mulai memanas setelah terjadi gestur yang dianggap provokatif dari salah satu pemain di lapangan. Sejumlah penonton umum, termasuk ibu-ibu dan anak-anak, dilaporkan ikut terkena lemparan.

“Libero salah satu tim meledek suporter BP Batam dan mengacungkan jari tengah. Langsung suasana panas dan terjadi lemparan botol,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (18/5/2026) siang.

Ketegangan sempat mereda setelah aparat dan panitia turun tangan, namun situasi kembali memburuk ketika suporter dari kubu lawan membalas lemparan ke arah tribun lainnya.

“Yang kena bukan hanya suporter, penonton biasa juga kena. Itu yang membuat massa semakin emosi,” jelasnya.

Insiden tersebut juga langsung memicu kritik terhadap penyelenggaraan turnamen. Banyak penonton menilai ajang olahraga sekelas Piala Wali Kota seharusnya memiliki standar keamanan dan fasilitas yang lebih baik.

Tony, salah seorang pencinta voli yang hadir dalam pertandingan kemarin menilai panitia gagal mengantisipasi besarnya jumlah pendukung kedua tim.

Ia juga menyoroti gangguan teknis selama pertandingan, termasuk insiden mati lampu yang disebut tidak diantisipasi dengan kesiapan genset cadangan.

“Ketika mati lampu, panitia tidak siapkan genset. Bahkan ada informasi kalau lampu tidak hidup empat jam, informasinga pertandingan diulang hari ini,” jelasnya.

Menurut Tony, kejadian tersebut menjadi catatan serius bagi penyelenggara, khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Batam, agar turnamen olahraga ke depan dikelola lebih profesional.

“Ini Piala Wali Kota, bukan pertandingan tingkat RT atau kecamatan. Harusnya standar penyelenggaraannya lebih profesional,” jelasnya. (Nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |