Menteri Agama Nilai Nikah Fest Relevan Jawab Tren Tunda Nikah

1 week ago 36
Ilustrasi. Foto: Freepik.com

AlurNews.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Nikah Fest menjadi salah satu instrumen penting negara dalam memperkuat layanan perkawinan dan ketahanan keluarga, khususnya bagi generasi muda. Program ini dinilai relevan untuk merespons tren penundaan perkawinan yang kian menguat.

Penegasan tersebut disampaikan Menag saat memberikan arahan pada Rapat Kerja Nasional Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Menurut Menag, Nikah Fest tidak sekadar agenda sosialisasi, tetapi ruang edukasi yang adaptif dan persuasif bagi anak muda dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga.

Program ini melengkapi berbagai inisiatif Kementerian Agama seperti Gerakan Sadar Pencatatan Nikah (Gas Nikah), Sakinah Funwalk, bimbingan perkawinan (Bimwin), serta Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS).

“Perkawinan itu bukan sekadar urusan pribadi, tapi juga bagian dari ikhtiar membangun peradaban,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.

Menag mengungkapkan, data tahun 2025 menunjukkan angka perkawinan mengalami kenaikan 0,3 persen yang dipengaruhi program Gas Nikah. Meski demikian, ia menilai capaian tersebut belum ideal dan masih membutuhkan penguatan pendekatan yang lebih menyentuh generasi muda.

“Masih ada peningkatan, tetapi ini juga menjadi sinyal bahwa kita harus bekerja lebih keras,” katanya.

Ia menyoroti fenomena global menurunnya minat menikah dan kecenderungan menunda perkawinan hingga usia tidak produktif. Kondisi ini, menurut Menag, menuntut pendekatan baru yang lebih kontekstual.

“Sekarang muncul fenomena global, orang tidak akan kawin atau akan menunda perkawinannya sampai ke usia-usia yang justru tidak produktif,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Nikah Fest dipandang strategis karena menghadirkan edukasi perkawinan yang dekat dengan realitas anak muda, bukan sekadar nasihat normatif. “Kita tidak bisa hanya menasihati, tapi harus menghadirkan program yang menyentuh realitas mereka,” kata Menag.

Selain mendorong kesiapan menikah, Menag juga menekankan pentingnya penguatan pembinaan keluarga. Program bimbingan pranikah dan bimbingan perkawinan dinilai berdampak positif, termasuk dalam menekan praktik perkawinan anak.

“Pendekatan edukatif ini harus terus kita perkuat,” ujarnya.

Menag mengingatkan, tujuan utama program perkawinan bukan sekadar meningkatkan angka, melainkan membangun keluarga yang berkualitas dan bertanggung jawab. “Yang kita dorong bukan hanya menikah, tapi menikah dengan kesiapan mental, spiritual, dan sosial,” katanya.

Ia meminta Ditjen Bimas Islam menjadikan Nikah Fest sebagai bagian dari ekosistem pembinaan keluarga berkelanjutan, dengan melibatkan pemerintah daerah, KUA, penyuluh agama, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Keluarga adalah unit terkecil, tapi dampaknya sangat besar bagi ketahanan umat,” tegasnya. (red)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |