Kasus Dewi Sartika: IDI Kepri Tunggu Hasil Forensik untuk Ungkap Penyebab Kematian

6 hours ago 6
Ketua IDI Kepri, Yanuarman. Foto: AlurNews.com

Alurnews.com – Kasus meninggalnya Dewi Sartika Sitinjak (24), pasien dugaan malapraktik di Rumah Sakit Awal Bros Botania, Batam Center kini menjadi perhatian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Kepulauan Riau.

Ketua IDI Kepri, Yanuarman mengatakan pihaknya ingin mengetahui secara menyeluruh penyebab kondisi Dewi memburuk hingga harus menjalani perawatan selama 12 hari di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal dunia.

Menurut Yanuarman, kepastian mengenai penyebab kondisi kritis pasien menjadi penting, terutama untuk mengetahui apakah kejadian tersebut berkaitan dengan obat yang diberikan atau faktor medis lainnya.

Baca Juga: Korban Dugaan Malapraktik di Awal Bros Meninggal, RS Minta Publik Tak Simpulkan Ada Kelalaian Medis

“Ini menjadi ketakutan buat kita nakes semua untuk menyuntikkan obat-obat suntik,” ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (13/8/2026).

Yanuarman mengatakan IDI Kepri saat ini masih berkomunikasi dengan RSAB Botania untuk memperoleh informasi mengenai rangkaian perawatan Dewi hingga meninggal dunia.

Namun, IDI tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian sebelum hasil pemeriksaan forensik keluar. IDI menghormati proses yang dilakukan keluarga dan kepolisian serta menunggu hasil pemeriksaan forensik di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri.

Hasil pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui penyebab kematian, termasuk memastikan apakah terdapat dugaan kelalaian medis, reaksi terhadap obat, alergi berat, syok, atau kondisi medis lainnya.

“Kami menghormati keluarga, polisi hingga menunggu hasil autopsi forensik RS Bhayangkara Polda Kepri untuk menindaklanjuti kematian korban, apakah karena malapraktik atau karena suatu obat atau timbulnya alergi sangat berat atau shock terapi,” jelasnya.

Meski belum menerima laporan resmi dari RSAB Botania, IDI Kepri menyatakan telah mengetahui kasus tersebut. Yanuarman mengatakan, IDI akan meminta pihak rumah sakit menjelaskan secara langsung kronologi penanganan Dewi.

“Kita akan mendengarkan secara langsung dari pihak RSAB kronologis kejadian itu di kantor IDI Kepri karena masyarakat ingin tahu perkembangannya. Dan kita akan mendata siapa-siapa tenaga medis yang merawat pasien tersebut,” ujarnya.

Penelusuran tersebut juga mencakup tenaga medis yang terlibat dalam perawatan pasien. Menurut Yanuarman, IDI melalui Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) siap memberikan keterangan apabila diminta kepolisian dalam proses penyelidikan.

“Mau tidak mau kami IDI melalui MKEK akan dipanggil pihak Poltabes untuk saksi dalam kasus ini,” katanya.

Selain mencari kejelasan atas kematian Dewi, Yanuarman menyoroti dampak kasus tersebut terhadap tenaga kesehatan. Ia mengatakan muncul kekhawatiran di kalangan tenaga kesehatan terkait pemberian obat melalui suntikan kepada pasien.

“Kasus ini luar biasa dampaknya pada tenaga medis. Karena sudah banyak yang ketakutan untuk memberikan obat-obat suntik walaupun tindakan suntik itu tidak memerlukan keterampilan tes,” ujarnya.

Jika nantinya ditemukan adanya kelalaian tenaga medis, IDI melalui MKEK akan memprosesnya sesuai ketentuan dan mekanisme profesi.

Sanksi yang diberikan, kata Yanuarman, akan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran, mulai dari teguran tertulis hingga sanksi yang lebih berat.

“Jika masalahnya ringan teguran tertulis, kalau ringan di-sckorsing enam bulan dan kalau berat ditarik izinnya,” katanya. (Nando)

Read Entire Article
Alur Berita | Malang Hot | Zona Local | Kabar Kalimantan |